2.1.
Difteri
Difteri ialah suatu penyakit
infeksi mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium
diphtheriae. Mudah menular dan yang diserang terutama traktus respiratorius
bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannya
eksotoksin yang dapat menimbulkan gejala umum dan lokal (3).
2.1.1.
Patofisiologi dan Patogenesis (3, 4)
Akibat yang ditimbulkan oleh
penyakit ini banyak bergantung pada efek eksotoksin yang diproduksi. Toksin
menghambat pembuatan protein sel sehingga sel mati. Nekrosis jaringan pada
tempat menempelnya kuman akan menunjang perkembang-biakan kuman dan produksi
toksin selanjutnya, serta pembentukan membran yang melekat erat pada dasarnya.






Kematian
terutama disebabkan oleh sumbatan membran pada laring dan trakea, gagal
jantung, gagal pernafasan atau akibat komplikasi yang sering yaitu
bronkopneumonia.
2.1.2.
Klasifikasi (3, 4)
Biasanya
pembagian dari infeksi difteri ini dibuat menurut tempat atau lokalisasi
jaringan yang terkena infeksi. Pembagian berdasarkan berat ringannya penyakit
ini juga diajukan oleh Beach dkk. (1950) sebagai berikut :
1. Infeksi Ringan
Pseudomembran terbatas pada
mukosa hidung atau fausial dengan gejala hanya nyeri menelan.
2. Infeksi Sedang
Pseudomembran
menyebar lebih luas sampai ke dinding posterior faring dengan edema ringan
laring yang dapat diatasi dengan pengobatan konservatif.
3. Infeksi Berat
Disertai
gejala sumbatan jalan nafas yang berat, yang hanya dapat diatasi dengan
trakeostomi. Juga gejala miokarditis, paralisis atau pun nefritis dapat
menyertaiya.

1.
Difteria Hidung

2. Difteria Faring dan Tonsil (Difteria Fausial)
3. Difteri Laring dan Trakea
4. Difteri Kutaneus
2.1.3.
Gejala Klinis
Gejala klinis yang terjadi
merupakan kumpulan gejala dari berbagai lokasi, sebagai akibat kerja kuman,
toksin dan penyulit.
Gejala umum yang timbul
berupa demam tidak terlalu tinggi, lesu, pucat, nyeri kepala dan anoreksia
sehingga tampak penderita sangat lemah sekali. Gejala ini biasanya disertai
dengan gejala khas untuk setiap bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri
menelan atau sesak nafas dengan serak dan stridor, sedangkan gejala akibat
eksotoksin bergantung kepada jaringan yang terkena seperti miokarditis,
paralisis jaringan saraf atau nefritis.
1. Difteria Hidung
-
Gejalanya paling ringan dan jarang terdapat (hanya 2 %)
-
Mula-mula hanya tampak pilek tetapi kemudian sekret yang ke
luar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran
-
Luka
lecet pada daerah nasobialis
-
Ditemukannya
pseudomembran di septum nasi
-
Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai faring dan
laring
2. Difteria Faring dan Tonsil (Difteria Fausial)
-
Paling sering dijumpai (± 75%)

-
Panas tidak tinggi

-
Nyeri
menelan ringan
-
Mual
dan muntah
-
Tidur
“ngorok”
-
Ditemukannya
pseudomembran di daerah orofaring
-
Bila berat, dapat disertai bullneck dan pendarahan
3. Difteria Laring
-
Primer atau sebagai perluasan dari difteri faring dan
tonsil (lebih sering)
-
Didapatkan
batuk menggonggong
-
Suara
parau
-
Gejala sumbatan saluran nafas atas (stridor inspirasi)
-
Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan, sembab, banyak
sekret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran
4. Difteria Kutaneus
-
Merupakan keadaan yang sangat jarang sekali terdapat
-
Dapat pula tombul di daerah konjungtiva, vagina dan
umblikus
2.1.4.
Diagnosis dan Prognosis (3, 4)
A. Diagnosis

B.
Prognosis

Nelson
berpendapat kematian penderita difteria sebesar 3 – 5% dan hal ini sangat
bergantung kepada :
1.
Umur penderita, karena makin muda umur anak maka
prognosisnya makin buruk.
2. Perjalanan penyakit, karena makin lanjut
maka makin buruk prognosisnya.
3. Letak lesi difteria.
4.
Keadaan umum penderita, misalnya prognosis kurang baik pada
penderita gizi kurang.
5. Pengobatan, makin lambat pemberian
antitoksin maka prognosisnya akan makin buruk.
2.1.5.
Komplikasi (3, 4)
Penyulit penyakit difteria
dapat terjadi dini maupun lambat, berupa :
1. Saluran pernafasan
Obstruksi
jalan nafas dengan segala akibatnya, bronkopneumonia dan atelektasis.
2. Kardiovaskular
Miokarditis
akibat toksin yang dibentuk oleh kuman penyakit ini.
3. Urogenital

4.
Susunan saraf

Kira-kira
10% penderita difteria akan mengalami komplikasi yang mengenai sistem susunan
saraf terutama sistem motorik.
2.1.6.
Penatalaksanaan (2, 3, 4)
Dalam
pengobatan penderita infeksi difteria terdiri dari :
1. Pengobatan Umum
-
Tirah baring mutlak selama 10 –14 hari. Pada miokarditis, tirah baring
selama 4 – 6 minggu.
-
Diberi cukup cairan dan kalori.
-
Makanan lunak dan mudah dicerna.
-
Pada penderita gawat, mungkin perlu cairan per infus
-
Isolasi penderita dan pengawasan yang ketat atas
kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain pemeriksaan EKG setiap minggu.
2. Pengobatan Khusus
a. Antitoksin : Anti Diphtheria Serum (ADS)
Diberikan sebanyak 20.000
U/hari selama 2 hari berturut-turut.dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan
mata. Bila
ternyata penderita sensitif terhadap serum tersebut, maka harus dilakukan
desensitisasi dengan cara Besredka (secara bertahap).
Dalam
literatur lain, dosis pemberian ADS ini dibedakan berdasarkan tingkat infeksi :


- Difteri
berat disertai penyulit : 100.000 U secara IV tetesan
b. Antimikroba
§ Penisilina prokain
sebanyak 50.000 U/kgBB/hari sampai 3 hari bebas panas atau selama 10 hari.
§ Bila alergi terhadap
penisilina : eritromisin 50 mg/kgBB/hari oral atau 500 mg per hari selama 5 –
10 hari.
§ Pada penderita yang
dilakukan trakeostomi, ditambahkan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari, dibagi 4
dosis.
c. Kortikosteroid
Dapat diberikan prednison 2
mg/kgBB/hari selama 3 minggu kemudian diberhentikan secara bertahap. Pada
penderita dengan penyulit jantung perlu dipertimbangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar